Belakangan ini, istilah gentle parenting semakin populer di kalangan orang tua. Namun, masih banyak yang salah paham tentang apa sebenarnya pola asuh ini. Alih-alih membangun hubungan hangat dengan anak, beberapa ibu justru merasa tertekan karena berusaha menjadi 'sempurna'.
Psikolog dan pakar parenting Sarah Ockwell-Smith menjelaskan bahwa gentle parenting berfokus pada membangun koneksi dengan anak. "Pola asuh ini memiliki empati terhadap apa yang dirasakan anak-anak dan disiplin penuh perhatian, dengan fokus pada pengajaran dan bimbingan, serta menetapkan batasan yang sesuai dengan usia," ungkapnya.
Sayangnya, banyak orang tua yang mengartikan gentle parenting sebagai permissive parenting—selalu mengalah dan minim aturan. Padahal keduanya jauh berbeda. Mari kita bahas satu per satu kesalahpahaman yang sering terjadi.
1. Gentle Parenting Bukan Berarti Tidak Boleh Bilang 'Tidak'
Banyak yang mengira gentle parenting melarang orang tua menolak keinginan anak. Padahal, psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, menegaskan bahwa gentle parenting adalah bentuk authoritative parenting—pengasuhan yang memadukan batasan tegas dengan hubungan hangat. "Batasan tetap menjadi bagian penting," ujarnya. Dokter anak Chrissie Ott, MD, menambahkan bahwa kemampuan mengatakan 'tidak' justru penting agar anak merasa aman. "Gentle parenting bukan berarti tidak ada disiplin. Ini disiplin tanpa mempermalukan, mengintimidasi, atau membuat anak merasa malu."
2. Bukan Satu-satunya Cara Membesarkan Anak yang Baik
Edlynn menyatakan tidak ada bukti bahwa gentle parenting adalah satu-satunya pendekatan untuk membangun hubungan sehat dan anak yang cerdas emosional. "Gentle parenting sebagai pendekatan belum diteliti secara ilmiah," katanya. Sementara penelitian yang ada justru menunjukkan bahwa authoritative parenting paling konsisten dikaitkan dengan hasil perkembangan positif.
3. Orang Tua Boleh Merasa Marah dan Lelah
Standar terlalu tinggi bisa memicu burnout. Ibu yang berusaha selalu tenang dan responsif kadang merasa gagal saat tidak mampu. Padahal, Ott mengingatkan, "Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mampu memberikan contoh menghadapi emosi." Jadi, wajar jika sesekali merasa kesal atau lelah.
4. Tidak Membuat Anak Manja
Anggapan bahwa gentle parenting akan membuat anak manja tidaklah benar. Ott menegaskan gentle parenting tetap mencakup aturan dan disiplin ketika dilanggar. "Perbedaannya adalah tujuannya memberikan arahan, bukan menimbulkan rasa takut, serta membangun rasa hormat, bukan dominasi," pesannya. Jika diterapkan sehat, anak tetap diminta bertanggung jawab atas perilakunya.
5. Tidak Harus Menghapus Pola Asuh Masa Kecil
Banyak ibu merasa harus menghapus semua pengalaman masa kecilnya agar bisa menerapkan gentle parenting. Padahal, menurut para ahli, yang terpenting adalah membangun hubungan yang aman dan penuh kasih, bukan melupakan masa lalu. Justru dengan memahami pengalaman sendiri, ibu bisa lebih bijak dalam mengasuh anak.
6. Bukan Berarti Harus Selalu Sempurna
Gentle parenting bukan tentang menjadi orang tua yang tanpa cela. Sebaliknya, ini tentang belajar dan bertumbuh bersama anak. Ketika ibu melakukan kesalahan, mengakui dan meminta maaf justru menjadi contoh berharga bagi anak tentang cara memperbaiki diri.
Intinya, gentle parenting adalah pendekatan yang fleksibel dan penuh kasih. Kuncinya adalah keseimbangan antara empati dan batasan, serta keberanian untuk menjadi manusia biasa yang terus belajar.